My First (rebooted) Post

Posted on Updated on

So, I’ve decided to join the Blogging 101 Course from The Daily Post. Actually, I’ve started the course right when I started my blog, but since they mentioned that the Blogging 101 will be started again on June, so I decided to follow it so that I can get a hold with the Community of new bloggers like myself.

So, in the first task, I was told to write a post about who am I and why I’m here. I already made it around a month ago, but it’s in Bahasa Indonesia, my native language, so I will do this again, but this time on English, because after blogging for a while, I’ve decided to use English on my blog to sharpen my English skill, especially on writing.

My main reason why I started to blog is that I wanted to improve my writing skill, since I’m on my 6th semester. Oh yea, I’m currently studying to obtain my undergraduate title on accounting. Also, the reason why I’m blogging publicly, instead of writing a personal journal is because the most effective way to improve my writing skill is to publish something and people can asses my post so that I can get a feedback. It’s kinda of absurd to expect my writing skill to improve when the only one who can asses my writings is myself.

Some topics that I will post on this blog mainly are about my personal experience that I wanted to tell to people. Also, some things related to my hobbies, which is cooking, eating, and gaming. One more thing, I will also post things related to the Blogging 101, since I’m currently following this course.

By the end of the year, I hope that my writing skill improved. To be more precise, I hope that by the end of the year I already have the discipline to blog at least three times a week, or every working days plus some summary post about my holidays or events on my weekends. Also, I hope that by the end of the year, my English has improved by being able to communicate in English on all of my blog post.

That’s it for today’s first post.

Advertisements

It’s Here! My About Page!

Posted on Updated on

It’s here! Finally, after a few weeks of no about page, my blog finally have a About page, you can check it here.

After reading the blogging 101 course, I finally decided to make that about page, and I still not confident, but someone has to start somewhere right? Also, I’m still not sure about what things to and not to post in this blog, so that about page is still in around beta version and can change anytime I feel I need to change it. Gosh, announcing it in a post like this is kind of embarrassing and very hard for me since I know that there are still many faults in my about page, eventhough I already read the tips form the Daily Post.

Well, that’s it for today I can’t continue writing about it anymore without feeling anxious that people reading this post or the page will laugh.

Why I Hate Sweeping the Floor

Quote Posted on

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Those Dishes Won’t Do Themselves.”

So, as the title said, the chore that I hate is sweeping the floor. The main reason is because of my parents. Not that I hate to do chores because I’m lazy, it’s because whenever I sweep the floor, my parents always bug me about the result, even when it’s not finished.

For example, when I’m sweeping under the chair and my parents sees me doing it, they always pointing some spot that they think hasn’t been swept yet. In fact, I already swept it! Oh how I hate it! It’s feels like there’s no way that I could sweep the floor in the right way. I don’t know how to please them in terms of sweeping the floor. Now, every time they asked me to sweep the floor, I refused and points that my work is never appreciated. The result, is that now they won’t ask me to do any chores, except cleaning the dishes, since I’m actually good at it.

Crusaders Quest, My Current Favorite Mobile Game on My Android

Posted on Updated on

As the title said, my current favorite mobile game is Crusaders Quest.

Why I like it? Well, it got my attention from it’s cute-sy and epic 16bit graphic. After it got my attention I got hooked from its gameplay. I liked the animation of the skills, be it blocks or special skills. For example, Leon’s signature Special Skill, Call of Holy Sword, which passive summons the ultimate Holy Sword, a big, badass, stronger holy sword.

Btw, here’s a screenshot form the front face of the game on my phone.

My front in-game screen
My front in-game screen

as you can see, my in-game name is zhongtai, you can add me as your friend, especially if you play it on android too. I recommend anyone to try this game, the system is quite simple but a little challenging and it has a easy learning curve. Also, the community is quite alive on facebook and reddit. in facebook you can search for the Crusaders Quest Official Group and in reddit you can go to /r/crusadersquest.

From the reddit page you can search for useful links to learn about things you need to know about Crusaders Quest.

My Passion

Posted on

Today, after class, I go with my friends to one of our lecturer’s house. We go there to consult about some course in my class. But, I only accompany them. While discussing some topics, we got out of track a little bit and he shared to us about some of his ex-students’s experiences. In short, he told us to focus on our passion. Even if our major right now isn’t our passion we must think that our major right now is to support our passion. Luckily, our major is accounting, so it absolutely can help us to earn money or work based on our passion or hobby.

The thing that troubles me is that he got me thinking really deep about my passion. Come to think of it, currently I don’t have any passion. Recently I just killed my last passion, gaming. Why? Because my parents told me to grow up and prepare to work. The thing is, my parent told me that if I’m still gaming like I used to, I won’t work properly. So, i killed my passion and now I’m passionless. Well, Shit isn’t it? Now I’m confused as hell and starting to rethinking about my life.

Bila Saya Bisa Mengulang Minggu Lalu

Quote Posted on Updated on

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Groundhog Week.”

Mengapa saya menulis posting ini? Karena dari sekian Daily Prompt yang saya dapat dari The Daily Post, topik ini yang paling bisa memancing ide saya dan topik yang paling mudah saya bahas karena saya siap membagikannya kepada siapapun.

Mari kita mulai, bila saya bisa mengulang minggu lalu, sepertinya saya tidak terlalu berminat. Mengapa? Karena minggu lalu termasuk minggu yang tenang bagi saya dan kegiatan-kegiatan saya lancar. Mungkin, hanya perkara seharusnya saya bisa mempercepat beberapa hal, seperti merevisi proposal penelitian untuk mata kuliah Seminar Akuntansi dan mempercepat proses pembuatan proposal PKL dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk PKL.

Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan untuk kali ini.

Nilai Uang

Quote Posted on Updated on

Mengikuti saran dari The Daily Post, khususnya pada kursus Blogging 101: Day Three, saya akhirnya menulis post ini.

Post ini mengenai Flip Flop, topik atau hal yang pernah saya lihat dari sudut atau kubu yang berbeda. Seperti pada judul, dapat dilihat bahwa yang saya lihat adalah pentingnyanilai dari uang. Dulu, ketika SD hingga awal SMP, saya tidak terlalu melihat bahwa uang adalah segalanya. Namun, berangsur-angsur saya mulai mengubah pandangan saya hingga saat ini saya sangat merasa bahwa uang sangat penting.

Perubahan ini terjadi sejak saya SMP awal, khususnya saat saya mulai bermain game online bersama teman-teman saya. Seperti layaknya game online gratis pada umumnya, permainan bisa menjadi kompetitif dan untuk bisa bertahan dalam kompetisi, kita harus mengeluarkan uang untuk membeli atau mendapatkan tambahan fitur di game yang bisa membuat kita unggul dibandingkan pemain lainnya. Pada saat itu (dan hingga saat ini) saya tidak terlalu memiliki uang lebih karena keluarga saya bukanlah keluarga yang kekayaannya berlebih. Alhasil, saya kalah dari teman-teman saya. Padahal, saya sebenarnya bisa bermain lebih baik dibandingkan dengan mereka.

Pada masa SMA, pandangan saya akan pentingnya uang semakin terbentuk, bahkan memang masa SMA adalah masa dimana pandangan saya terhadap uang benar-benar terbentuk. Pada awal kelas 10, saya mendapat pacar baru dan posisi keuangan keluarganya cukup lumayan di atas saya. Pada awalnya hubungan kami biasa saja dan sepertinya bisa mulus. Namun, perlahan orang tuanya mulai mempermasalahkan keuangan keluarga saya ketika hubungan kami semakin bertumbuh. Memang orang tua dia tidak pernah mengatakan hal tersebut langsung kepada saya, namun gerak tubuh, ekspresi dan reaksi mereka terhadap saya mengatakan kepada saya bahwa saya tidak pantas untuk anak mereka karena keuangan keluarga saya dirasa tidak bisa membiayai anak perempuan mereka. Sebagai anak SMA, hal tersebut berpengaruh pada saya sehingga saya sempat menjadi agak minder dan depresi ringan (dan hingga sekarang masih berdampak). Akhirnya, karena sepertinya dalam waktu dekat memang saya dan keluarga tidak dapat mengubah keadaan, maka akhirnya saya memutuskan hubungan dengannya (dia pun juga sudah tidak berusaha mempertahankan hubungan karena tersirat di mata dan geriknya bahwa tidak ada harapan dengan saya).

Perpisahan tersebut tidak langsung berdampak pada saya saat itu, namun setelah beberapa hari mulai terasa. Mungkin bisa dibilang seperti ketika jatuh luka tidak langsung sakit, namun setelah beberapa saat baru terasa. Dampaknya cukup signifikan saat itu, saya menjadi agak minder dengan keuangan keluarga saya dan saya mulai menyadari posisi keuangan dari teman-teman saya. Saya yang terbiasa kritis dengan sesuatu yang sudah saya sadari atau tertarik langsung memproses mengenai keuangan keluarga dan teman-teman di sekolah saya. Alhasil, karena sekolah saya termasuk sekolah swasta favorit di kota kelahiran saya, tentunya posisi keuangan dari 95% siswa disana masuk ke golongan mampu ke atas. Menyadari hal ini, dan saya baru putus karena masalah keuangan, saya benar-benar down, namun tidak ada yang tahu. Mengapa? Karena saya introvert dan kritis, sehingga saya sudah bisa menyembunyikan keadaan saya dengan belajar dari literatur sastra, maupun film hingga konten di internet.

Sepertinya pembicaraan mulai menyimpang, namun akan saya kembalikan. Setelah “berjuang bersandiwara” selama beberapa bulan, saya akhirnya mulai berani mencari pacar lagi. Namun, mungkin karena memang saya masih sakit hati sehingga secara tidak sadar saya akhirnya dapat pacara yang sekali lagi posisi keuangannya di atas saya. Alhasil, endingnya sama karena saya sadar endingnya juga akan mirip dengan pacara sebelumnya, sehingga sebelum saya sakit lagi lebih baik saya akhiri dan dia pun juga mengerti (tidak langsung sih, karena saya arahkan agar seakan-akan alasannya bukan karena keuangan).

Sekian dulu pembahasan saya di blog ini, karena bila tidak saya batasi, akan membuka luka lama bagi saya.

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Flip Flop.”