Quotes

Why I Hate Sweeping the Floor

Quote Posted on

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Those Dishes Won’t Do Themselves.”

So, as the title said, the chore that I hate is sweeping the floor. The main reason is because of my parents. Not that I hate to do chores because I’m lazy, it’s because whenever I sweep the floor, my parents always bug me about the result, even when it’s not finished.

For example, when I’m sweeping under the chair and my parents sees me doing it, they always pointing some spot that they think hasn’t been swept yet. In fact, I already swept it! Oh how I hate it! It’s feels like there’s no way that I could sweep the floor in the right way. I don’t know how to please them in terms of sweeping the floor. Now, every time they asked me to sweep the floor, I refused and points that my work is never appreciated. The result, is that now they won’t ask me to do any chores, except cleaning the dishes, since I’m actually good at it.

Advertisements

Bila Saya Bisa Mengulang Minggu Lalu

Quote Posted on Updated on

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Groundhog Week.”

Mengapa saya menulis posting ini? Karena dari sekian Daily Prompt yang saya dapat dari The Daily Post, topik ini yang paling bisa memancing ide saya dan topik yang paling mudah saya bahas karena saya siap membagikannya kepada siapapun.

Mari kita mulai, bila saya bisa mengulang minggu lalu, sepertinya saya tidak terlalu berminat. Mengapa? Karena minggu lalu termasuk minggu yang tenang bagi saya dan kegiatan-kegiatan saya lancar. Mungkin, hanya perkara seharusnya saya bisa mempercepat beberapa hal, seperti merevisi proposal penelitian untuk mata kuliah Seminar Akuntansi dan mempercepat proses pembuatan proposal PKL dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk PKL.

Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan untuk kali ini.

Nilai Uang

Quote Posted on Updated on

Mengikuti saran dari The Daily Post, khususnya pada kursus Blogging 101: Day Three, saya akhirnya menulis post ini.

Post ini mengenai Flip Flop, topik atau hal yang pernah saya lihat dari sudut atau kubu yang berbeda. Seperti pada judul, dapat dilihat bahwa yang saya lihat adalah pentingnyanilai dari uang. Dulu, ketika SD hingga awal SMP, saya tidak terlalu melihat bahwa uang adalah segalanya. Namun, berangsur-angsur saya mulai mengubah pandangan saya hingga saat ini saya sangat merasa bahwa uang sangat penting.

Perubahan ini terjadi sejak saya SMP awal, khususnya saat saya mulai bermain game online bersama teman-teman saya. Seperti layaknya game online gratis pada umumnya, permainan bisa menjadi kompetitif dan untuk bisa bertahan dalam kompetisi, kita harus mengeluarkan uang untuk membeli atau mendapatkan tambahan fitur di game yang bisa membuat kita unggul dibandingkan pemain lainnya. Pada saat itu (dan hingga saat ini) saya tidak terlalu memiliki uang lebih karena keluarga saya bukanlah keluarga yang kekayaannya berlebih. Alhasil, saya kalah dari teman-teman saya. Padahal, saya sebenarnya bisa bermain lebih baik dibandingkan dengan mereka.

Pada masa SMA, pandangan saya akan pentingnya uang semakin terbentuk, bahkan memang masa SMA adalah masa dimana pandangan saya terhadap uang benar-benar terbentuk. Pada awal kelas 10, saya mendapat pacar baru dan posisi keuangan keluarganya cukup lumayan di atas saya. Pada awalnya hubungan kami biasa saja dan sepertinya bisa mulus. Namun, perlahan orang tuanya mulai mempermasalahkan keuangan keluarga saya ketika hubungan kami semakin bertumbuh. Memang orang tua dia tidak pernah mengatakan hal tersebut langsung kepada saya, namun gerak tubuh, ekspresi dan reaksi mereka terhadap saya mengatakan kepada saya bahwa saya tidak pantas untuk anak mereka karena keuangan keluarga saya dirasa tidak bisa membiayai anak perempuan mereka. Sebagai anak SMA, hal tersebut berpengaruh pada saya sehingga saya sempat menjadi agak minder dan depresi ringan (dan hingga sekarang masih berdampak). Akhirnya, karena sepertinya dalam waktu dekat memang saya dan keluarga tidak dapat mengubah keadaan, maka akhirnya saya memutuskan hubungan dengannya (dia pun juga sudah tidak berusaha mempertahankan hubungan karena tersirat di mata dan geriknya bahwa tidak ada harapan dengan saya).

Perpisahan tersebut tidak langsung berdampak pada saya saat itu, namun setelah beberapa hari mulai terasa. Mungkin bisa dibilang seperti ketika jatuh luka tidak langsung sakit, namun setelah beberapa saat baru terasa. Dampaknya cukup signifikan saat itu, saya menjadi agak minder dengan keuangan keluarga saya dan saya mulai menyadari posisi keuangan dari teman-teman saya. Saya yang terbiasa kritis dengan sesuatu yang sudah saya sadari atau tertarik langsung memproses mengenai keuangan keluarga dan teman-teman di sekolah saya. Alhasil, karena sekolah saya termasuk sekolah swasta favorit di kota kelahiran saya, tentunya posisi keuangan dari 95% siswa disana masuk ke golongan mampu ke atas. Menyadari hal ini, dan saya baru putus karena masalah keuangan, saya benar-benar down, namun tidak ada yang tahu. Mengapa? Karena saya introvert dan kritis, sehingga saya sudah bisa menyembunyikan keadaan saya dengan belajar dari literatur sastra, maupun film hingga konten di internet.

Sepertinya pembicaraan mulai menyimpang, namun akan saya kembalikan. Setelah “berjuang bersandiwara” selama beberapa bulan, saya akhirnya mulai berani mencari pacar lagi. Namun, mungkin karena memang saya masih sakit hati sehingga secara tidak sadar saya akhirnya dapat pacara yang sekali lagi posisi keuangannya di atas saya. Alhasil, endingnya sama karena saya sadar endingnya juga akan mirip dengan pacara sebelumnya, sehingga sebelum saya sakit lagi lebih baik saya akhiri dan dia pun juga mengerti (tidak langsung sih, karena saya arahkan agar seakan-akan alasannya bukan karena keuangan).

Sekian dulu pembahasan saya di blog ini, karena bila tidak saya batasi, akan membuka luka lama bagi saya.

In response to The Daily Post’s writing prompt: “Flip Flop.”